Culinary

Mengenal Sate Jamur Tiram di Desa Buana Jaya Kukar, Alternatif Makanan Lezat dan Bergizi yang Kian Digemari

KLIKSAMARINDA – Sate jamur kini menjadi salah satu kuliner favorit masyarakat. Tekstur jamur yang lembut dan kenyal, serta rasanya yang gurih, membuat makanan ini banyak digemari, terutama oleh mereka yang mencari alternatif sehat selain daging.

Jenis jamur yang paling umum digunakan adalah jamur tiram. Teksturnya yang mirip daging serta rasa yang mudah menyerap bumbu menjadikannya pilihan tepat sebagai bahan dasar sate.

Tak hanya cocok disajikan dengan sambal kacang, sate jamur juga nikmat disantap bersama sambal kecap manis, memberikan sensasi rasa yang berbeda namun tetap menggugah selera.

Meski belum banyak dikenal, sate jamur perlahan mulai mendapat tempat di hati masyarakat.

Salah satunya adalah Dayang, mahasiswi Fakultas Hukum UINSI Samarinda asal Tenggarong, Kutai Kartanegara (Kukar), Kalimantan Timur (Kaltim).

Dirinya mengaku langsung menyukai sate jamur sejak pertama kali mencobanya.

“Enak, teksturnya kayak daging. Kenyal dan lembut banget,” ujarnya singkat.

Hal serupa juga dirasakan oleh Aswin, warga Palaran, Samarinda. Ia mengatakan sate jamur sangat cocok bagi masyarakat yang memiliki pantangan terhadap konsumsi daging.

“Vegetarian cocok banget pakai ini. Rasanya kayak kikilan. Apalagi bagi yang anti makan usus karena takut kolesterol, bisa ganti sate usus pakai jamur ini,” katanya.

Sate jamur dianggap lebih sehat karena rendah lemak dan kolesterol, sehingga menjadi solusi bagi gaya hidup yang lebih baik.

Tak hanya lezat dan sehat, potensi bisnis dari jamur tiram juga cukup menjanjikan. Budidayanya pun relatif mudah dan tidak memerlukan keahlian khusus.

Bahkan, produk olahan jamur dapat menembus pasar luar daerah hingga internasional.

Di Desa Buana Jaya, Kecamatan Tenggarong Seberang, Kukar, berdiri “Omah Jamur Randu Lima”, milik Erni, seorang petani jamur yang telah memulai usahanya sejak tahun 2020.

Erni mengungkapkan bahwa setiap hari dirinya menerima pesanan hingga 200 kilogram jamur, meskipun hanya mampu memenuhi sekitar 30 hingga 50 kilogram karena keterbatasan lahan dan modal.

Awalnya hanya beberapa balok jamur, sekarang sudah ratusan. Produksi per hari bisa sampai 50 kilo.

Tapi lahannya terbatas, modal juga masih jadi kendala.

“Lahan kita tuh terbatas. Punyanya cuma ini aja. Kemudian juga modal, modal itu juga jadi kendala sendiri karena, kan budidaya jamur ini jadi satu-satunya sumber penghasilan kami. Jadi penghasilannya dibagi-bagi, gak fokus,” ungkap Erni.

Seiring meningkatnya permintaan, pelanggan kini tidak hanya membeli jamur segar, tetapi juga produk olahan seperti jamur crispy dan sate jamur, terutama bagi konsumen di luar Kalimantan Timur. Inovasi inilah yang membuat usaha jamur Erni makin dikenal.

“Permintaan makin tinggi, tapi karena modal dan lahan terbatas, kami masih belum bisa memenuhi semuanya,” tambahnya.

Meski begitu, semangat dan ketekunan menjadi modal utama dalam mengembangkan usaha jamur ini. Budidaya jamur tidak hanya memberi peluang ekonomi, tetapi juga mendorong gaya hidup sehat melalui konsumsi makanan berbasis nabati yang lezat dan bergizi. (Suriyatman)

seedbacklink

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *